Suamiku memang bukan orang yang pandai berbicara di publik, tapi ia adalah pasangan terhebat yang Allah kirimkan untukku.
Bukan prestasi gilang gemilang yang membuatku kagum padanya, bukan seabrek piala ataupun harta, tapi hal-hal sederhana yang begitu bermakna.
Misalnya:
1. Saat aku lupa sudah mengunci pintu atau belum, padahal baruu saja menguncinya, lalu aku menengoknya kembali, maka kata beliau, "Lah, hal sederhana saja kau tak konsentrasi, apalagi saat sholat". Hiks. Tepat sekali karena memang aku sering lupa bilangan raka'at saat sholat.
2. Saat aku menyepelekan wudhu, yakni saat aku makan setelah wudhu, maka kata beliau,"Heh sudah wudhu kok makan". Dengan santainya aku jawab,"Kan ga batalin wudhu". Lalu beliau jawab lagi, "Ya tapi kan kotor lagi (karena mulutnya buat makan)". Hiks. Iya bang. Tepat sekali.
3. Saat aku bawakan uang beberapa lembar rupiah buat masukin kotak infaq saat sholat Ied (yang akhirnya uangnya dibagi dengan simbah biar simbah bisa ikut masukin uang ke kotak), pulang-pulang aku mendapati uang di sakunya masih ada. Dengan suuzhonnya aku berkata,"Kok uangnya masih, gak dimasukin kotak ya?". Bayanganku, pelit amat ini anak cuma masukin uang ke kotak infaq aja gak mau (karena memang suami orangnya perhitungan banget dengan pengeluaran).
Tapi prasangka buruk itu hancur lebur ketika beliau menjawab,"Aku jaga-jaga aja kalau simbah kebelet ke toilet, gak ada uang lagi". Hiks. Jadi akunya yang merasa bersalah karena memberinya uang mepet.
4. Dulu, sepengetahuanku, kalau haid biasa 7 hari, ya kalau 6 hari sudah berhenti, trus mau dipentokkan sampai 7 hari gak apa-apa, gak usah sholat juga. Setelah menikah, kata beliau, "Ya kurangannya di qadha'lah". Jadi 1hari nya di qadha'. Hiks. Ini perkara wanita, tapi kenapa aku sendiri malah tak paham.
5. Stop dlu, kapan2 dilanjutin in syaa Allah